Senin, 02 Maret 2015

Mengenal Lebih Jelas Burung Ocehan Cabai Gunung

Burung ocehan cabai gunung merupakan burung endemik asli Indonesia yang daerah penyebaran hanya terfokus di Indonesia. Burung yang mempunyai nama ilmiah Dicaeum Sanguinolentum dapat dijumpai di daerah-daerah seperti Jawa, Bali, dan di Sunda Kecil. Keberadaan burung cabai gunung sendiri tidaklah begitu populer di kalangan para pecinta burung ocehan. Alasannya karena burung ini memang belum pernah diperlombakan dan hanya sebatas dipelihara saja. Tapi walaupun demikian kicauan burung cabai gunung tak kalah bagus dibanding burung ocehan lainnya. Sedari itu dalam artikel ini coba diulas mengenai burung cabai gunung secara jelas untuk menambah pengetahuan kita bersama terkait burung cabai-cabaian.

Di alam liar burung cabai gunung banyak hidup di area dataran tinggi yang sesuai dengan namanya yakni di perbukitan, pegunungan, pinggiran hutan dengan ketinggian dapat mencapai 2400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di habitat aslinya sendiri burung cabai gunung suka terbang di antara pepohonan dan ia juga gemar memakan berbagai jenis serangga kecil, buah-buah yang berukuran kecil, dan juga terkadang menyantap laba-laba. Dan juga burung cabai gunung dikenal sebagai burung penetap artinya saat ia sudah berada di suatu wilayah maka ia tidak akan berpindah-pindah lagi ke tempat lain dan ia hanya akan berpindah bila habitatnya telah rusak atau mendapatkan ancaman yang tidak bisa dihadapinya sendiri atau berkelompok.


Gambar 1. Burung Cabai Gunung

Untuk warna kicauannya sendiri burung cabai gunung terbilang bagus yakni kicauannya terdengar memiliki nada yang cukup tinggi dan variatif dengan bunyi nadanya “clittt...clittt...clittt” atau “cukk...cuukk..cukk...twitkk” atau “tikkk....tikk...tikkk”. Keunikan tersendiri dari kicauan burung cabai gunung sering kali dimanfaatkan oleh para peminat burung ocehan untuk memaster atau melatih burung ocehan lain agar mau berkicau. Hal ini dikarenakan suara kicauannya yang cukup tinggi dan tajam sehingga burung ocehan seperti pleci, branjangan, dan lain-lain akan coba mengikuti irama kicauan burung cabai gunung. Sedari itu pula perawatan untuk menjaga kicauan burung cabai gunung harus digenjot dengan diberikan nektar, buah-buahan, kroto, dan ulat-ulatan.

Sedangkan ciri-ciri fisiknya memiliki perbedaan antara yang jantan dan betina. Untuk burung cabai gunung jantan ciri-cirinya ialah ukuran fisiknya hanya sekitar 8 cm saja, terdapat warna biru tua di bagian atas tubuhnya, bagian tenggorokan dan perutnya berwarna kuning tua, terlihat warna merah saga di bagian dadanya. Untuk yang burung cabai gunung betinanya ukuran fisiknya sama dengan yang jantan, di bagian atas tubuhnya terdapat warna zaitun yang agak buram, pada bagian bawah tubuhnya terdapat warna kuning tua yang bercoret warna keabu-abuan, sayapnya berwarna hitam keabu-abuan, dan kakinya berwarna hitam keabu-abuan. Untuk ekornya antara jantan dan betina ukurannya sama yakni berukuran pendek sekitar 3 cm.

Demikianlah ulasan mengenai burung cabai gunung yang keunikannya sering dimanfaatkan untuk melatih atau memaster burung ocehan agar rajin dan mau berkicau. Sedari itu dengan membaca artikel ini tak salah bagi anda untuk mencoba memelihara burung cabai gunung yang dapat digunakan untuk memaster burung ocehan atau mendengar kicauannya yang merdu. Okey.

Oleh: Satria Dwi Saputro
Sumber:
http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_cabai_gunung.htm
http://omkicau.com/2014/11/24/cabai-gunung-burung-kecil-dengan-suara-kicauan-tajam/

Gambar:
1. http://anekainfounik.net/2014/03/04/8-jenis-burung-cabai-yang-ada-di-indonesia/gambar-burung-kicau-cabai-gunung/

Jumat, 27 Februari 2015

Mengenal Kepompong Sebagai Makanan Alternatif bagi Burung Kicauan

Kita tentu sudah pada mengetahui berbagai makanan alternatif untuk burung kicauan yang umumnya berasal dari jenis hewani seperti jangkrik, ikan guppy, ulat, kroto, dan masih banyak lagi. Tentunya pula kita tahu bahwa khasiat yang ditawarkan oleh makanan alternatif ialah burung cepat gacor, staminanya terjaga, dan yang terpenting kicauannya semakin indah terdengar. Nah, ada satu jenis makanan untuk burung ocehan yang dapat dijadikan sebagai makanan alternatif yang bernutrisi tinggi. Nama makanan tersebut sudah tidak lagi asing bagi para pembaca sekalian yakni Kepompong.

Ya, kepompong adalah suatu bentuk metamorfosa terakhir dari berbagai jenis ulat untuk menuju ke bentuk serangga yang sempurna yakni kupu-kupu, kumbang, ataupun lebah. Pupa yang merupakan nama latin dari kepompong sudah sangat familiar bagi kalangan masyarakat kita yang banyak dijumpai di antara pepohonan seperti pohon pisang. Kepompong biasanya tergantung pada ranting-ranting pohon yang bentuknya agak besar dan keras bila disentuh. Bagi masyarakat sendiri di beberapa daerah terkadang kepompong dijadikan sebagai menu untuk dimakan karena mengandung banyak nutrisi seperti kandungan proteinnya bisa mencapai 65 % sedangkan kandungan lemaknya hanya sekitar 10 %. Dan umumnya jenis kepompong yang dikomsumsi oleh sebagian masyarakat ialah yang berasal dari ulat jati.


Gambar 1. Kepompong

Nah, untuk burung ocehan pun begitu juga yakni kepompong aman untuk dikonsumsi asal tidak berlebihan atau over. Kepompong bila disantap oleh burung kicauan pemakan serangga seperti murai batu, anis, kacer, dan lain-lain manfaatnya ada banyak sekali yakni dapat menjernihkan kicauan terdengar semakin merdu, burung pun lebih aktif berkicau, mental burung semakin bagus, dan ia lebih atraktif. Di samping itu juga, kandungan nutrisi yang lain pada kepompong selain lemak dan protein ialah adanya natrium, kalsium, fosfat, dan kalium. Bahkan juga terkandung di dalamnya banyak vitamin seperti vitamin B1, B2, dan C serta asam folat dan asam nikotinat.

Dan juga, umumnya jenis kepompong yang biasanya digunakan untuk dikonsumsi oleh burung kicauan ialah yang berasal dari ulat sutera dan ulat jati. Sebab di beberapa negara seperti malaysia, vietnam, dan thailand memanfaatkan kedua jenis kepompong dari ulat tersebut untuk diberikan sebagai makanan alternatif bagi burung ocehannya. Sehingga tak salah untuk menirunya di negara kita ini.

Sedangkan untuk pemberian kepompong kepada burung kicauan ada banyak cara yang disesuaikan menurut kemampuan burung ocehan dalam memakannya. Cara pertama, dapat dengan membuka kulit kepompong yang terkenal keras dengan mencucukkan lidi atau sejenisnya lalu digantungkan pada sela-sela sangkar burung. Cara kedua, dapat pula merebusnya agar kulit dan daging di dalam kepompong menjadi lunak atau tidak mengeras sehingga memudahkan bagi burung kicauan menggigitnya. Dan cara ketiga, dapat juga dengan mengubah kepompong dalam bentuk tepung yang tujuannya sama agar burung kicauan mudah dalam mengonsumsinya.

Di samping itu dengan tingginya kandungan protein pada kepompong tidak dianjurkan bagi burung ocehan mengonsumsinya sering-sering. Artinya pemberian pakan kepompong untuk burung ocehan dapat dilakukan sewajarnya karena dampaknya bisa memburuk bila burung ocehan mengonsumsinya secara berlebihan.

Demikianlah penjelasan mengenai kepompong yang sudah dimanfaatkan oleh para pemelihara burung ocehan di luar negeri untuk dimakan burung ocehannya. Dan tak salah bila mencobanya untuk burung ocehan anda dengan memperhatikan jenis kepompongnya dan tetap jangan berlebihan burung ocehan mengonsumsinya. Okey.

Oleh: Satria Dwi Saputro
Sumber:
http://omkicau.com/2015/02/04/kepompong-ef-alternatif-berprotein-tinggi-untuk-burung-kicauan/
http://omkicau.com/2015/02/04/kepompong-ef-alternatif-berprotein-tinggi-untuk-burung-kicauan/2/
http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/12/12/15/mf2tlg-kepompong-ulat-kaya-protein

Gambar:
1. http://www.gambarbinatang.com/2013/01/gambar-kepompong-kupu-kupu-cantik.html