Rabu, 28 Mei 2014

Burung Kehicap Boano, Jenis Burung Ocehan Yang Perlu Dilestarikan

Bicara burung endemik asli Indonesia kembali memang tidak pernah habis untuk dikupas yang dimulai dari habitatnya, jenis burungnya, dan populasinya. Tapi dari sekian banyak jenis burung yang hidup di Indonesia tercatat sebagiannya berada di ambang kepunahan. Dan salah satunya adalah burung ocehan Kehicap Boano. Mungkin sebagian dari para pembaca belum mengenal burung ocehan Kehicap Boano baik dari ciri-ciri fisiknya, tingkah lakunya, dan di mana burung ini hidup. Ya, artikel ini secara khusus mengupas seluk beluk burung ocehan Kehicap Boano agar dikenal oleh semuanya dan semoga populasinya dapat dilestarikan dan terselamatkan.

Burung Kehicap Boano adalah burung endemik yang mendiami pulau Boano salah satu dari beberapa kepulauan Maluku. Nama Ilmiah burung Kehicap Boano adalah Monarcha Boanensis yang tempat hidupnya adalah hutan sekunder lebat dan tropis yang berada di dekat kaki bukit pegunungan ataupun di semak-semak yang banyak pepohonan rindang. Karakter burung Kehicap Boano yang hidup sendiri-sendiri menjadikannya sesekali waktu saat mencari makan di hutan sering bergabung dengan kawanan burung lain yang berbeda jenis dengannya. Dan serangga-serangga kecil, ulat, dan telur semut adalah makanan umum bagi burung Kehicap Boano yang hidup di alam liar.

Ciri-ciri dari burung Kehicap Boano dapat memerhatikan ukuran badannya yang hanya sekitar 16 cm saja. Sedangkan untuk warna bulunya terdapat dua warna yakni hitam dan putih. Untuk yang berwarna hitam itu terdapat di bagian atas yang mencakup kepala, dagu, sayap, punggung, dan ujung ekornya. Untuk yang berwarna putih terdapat di bagian bawah tubuhnya yang mencakup di bagian dada, pangkal ekor, dan pipinya. Sedangkan paruhnya berwarna hitam pekat dan pendek. Tercatat dari berbagi sumber bahwa jumlah populasinya hanya sekitar 100 sampai 200 ekor saja. Yang menjadikannya terancam adalah perburuan liar, penebangan hutan tempat ia tinggal, dan minimnya penelitian terhadap burung ini untuk dikonservasi ke tempat khusus. Sehingga dari tahun ke tahun jumlahnya semakin berkurang dan mengancam tingkat populasinya.



Dalam catatan sejarah, burung Kehicap Boano pertama kali ditemukan oleh manusia pada tahun 1918. Sampai bertahun-tahun lamanya tepat pada tahun 1991 kembali burung ini ditemukan di gunung Tahun, Pulau Boano. Walaupun ukuran badannya yang kecil diketahui bahwa burung Kehicap Boano mempunyai kicauan suara yang cukup unik yang berbeda dari burung ocehan lainnya. Yang mana burung Kehicap Boano akan berkicau dengan suara ‘tjuu-tjuu’ yang terdengar cukup jernih, dan selanjutnya diikuti dengan deringan yang lemah lembut sampai akhirnya suara dan deringan itu menghilang setelah 6 detik.

Terbatasnya jumlah penyebaran burung Kehicap Boano hanya terdapat di pulau Boano yang masuk ke dalam kepulauan Maluku tentu suatu ciri khas yang dimiliki oleh Maluku. Tapi minimnya perhatian terhadap burung tersebut dengan terus merusak alamnya dan masih sedikitnya tindakan yang dilakukan untuk melestarikannya di tempat konservasi binatang langka maka jumlah yang 200 ekor tadi akan terus berkurang bahkan bisa punah.

Sedari itu, bangga mempunyai burung ocehan yang unik dan bersuara merdu maka harus bangga pula untuk melestarikannya agar tidak sampai punah.

Oleh: Satria Dwi Saputro
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber:
http://alamendah.org/2012/04/02/kehicap-boano-burung-langka-yang-terabai/comment-page-1/
http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kehicap-boano/
Gambar:
http://burung-nusantara.org/ID/gallery/flycatchers-warblers-thrushes/


Related Posts :