Selasa, 05 Agustus 2014

Misterinya Burung Ocehan Sikatan Aceh

Mengenal berbagai jenis burung ocehan adalah sesuatu yang lumrah dilakukan oleh siapapun untuk menambah pengetahuan dan pengalamannya mengenai burung ocehan tersebut. Burung ocehan yang begitu terkenal dan populasinya masih cukup banyak seperti kenari, murai batu, pancawarna, robin, cucak hijau, prenjak jawa, dan masih banyak lagi.

Tapi dari beberapa spesies burung ocehan ada yang sudah mengalami pemangkasan spesies yang cukup drastis sehingga burung ocehan tersebut dikatakan populasinya telah kritis atau hampir punah. Salah satu jenis burung ocehan yang dicap hampir punah atau kritis populasinya ialah burung sikatan aceh yang keberadaannya masih mengandung misteri.

Burung sikatan aceh adalah burung endemik asal Indonesia yang keberadaannya ada di daratan Sumatera. Keberadaan burung sikatan aceh pertama kali diketemukan pada tahun 1917 dan tahun 1918 yang selanjutnya burung sikatan aceh tidak pernah lagi ditemui oleh para peneliti ataupun masyarakat hingga sampai saat ini. Sehingga keberadaan burung sikatan aceh menjadi cukup misterius yang harus diungkap keberadaannya.

Dalam bahasa inggris nama dari burung sikatan aceh ialah Rueck’s Blue-flycatcher atau lebih dikenal dengan sebutan Rueck’s Niltava. Ciri-ciri dari burung sikatan aceh ialah terdapat warna biru pada hampir keseluruhan tubuhnya kecuali pada bagian bawah tubuhnya yang berwarna putih kebiruan. Ukuran tubuh dari burung sikatan aceh ialah 17 cm sehingga ukurannya tergolong agak besar. Secara khusus burung sikatan aceh jantan dan betina mempunyai perbedaan untuk ciri-ciri fisiknya.



Nah, untuk sikatan aceh jantan ciri-cirinya ialah warna biru terdapat pada bagian kepala, tenggorokan, dan dadanya. Sedangkan pada bagian tunggir dan penutup ekornya mempunyai warna biru yang mengkilap, untuk burung sikatan aceh yang masih mudah corak warna tubuhnya cenderung lebih gelap dan paruhnya sedikit besar. Untuk yang sikatan aceh betina ciri-ciri fisiknya ialah tampak warna coklat-merah bata pada bagian atas tubuhnya, bagian tunggir dan penutup ekornya berwarna merah bata, dadanya tampak berwarna merah yang agak karat, dan kakinya berwarna hitam sama seperti dengan warna paruhnya.

Kemisterian dari burung sikatan aceh ialah populasinya yang tidak pernah ditemui lagi setelah tahun 1918 di hutan sumatera bagian utara dan juga sampai saat ini belum ada dokumen mengenai suara atau kicauan dari burung sikatan aceh. Sehingga dengan tidak diketahuinya suara dari sikatan aceh akan menimbulkan tanda tanya sampai kapanpun tentang suara dari burung sikatan aceh.

Keberadaan dari burung sikatan aceh yang dijumpai tahun 1917 di sumatera bagian utara diketemukan oleh peneliti dari negeri Belanda yang bernama August van Heijst dan jasad dari burung yang diketemukan itu disinyalir berada di Universitas Amsterdam, Belanda. Dan diduga juga habitat dari burung sikatan aceh ialah di hutan sekunder yang berada di hutan Sumatera bagian Utara. Di alam liar burung sikatan aceh memakan serangga kecil, ulat, dan telur semut.

Dan inilah ulasan yang bisa dituliskan dalam artikel ini bahwa burung sikatan aceh divonis populasinya hampir punah atau kritis. Dan bila dalam beberapa tahun keberadaan burung ini tetap tidak diketemukan bisa jadi statusnya berubah menjadi punah di alam liar. Dan semoga saja artikel ini memberikan gambaran pada kita bahwa keberadaan burung ini sempat ada pada tahun 1917 lalu dan semoga suatu saat keberadaannya dapat diketahui sehingga bisa dikonservasi oleh pemerintah. Terima kasih.

Oleh: Satria Dwi Saputro
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber:
1. http://omkicau.com/2013/12/18/beberapa-misteri-tentang-burung-sikatan-aceh/sikatan-aceh/
2. http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/anis-sulawesi/

Gambar:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/2/2b/Gretek.jpg


Related Posts :