Kamis, 14 Agustus 2014

Seputar Burung Kepodang

Burung Kepodang merupakan salah satu jenis burung kicauan yang dijadikan maskot provinsi di Indonesia, yaitu di provinsi Jawa Tengah. Bagi masyarakat jawa, khususnya jawa tengah, tentu burung kicauan yang satu ini bernilai istimewa dan memiliki makna tersendiri sehingga dijadikan maskot provinsinya.

Yah, burung kepodang memang mempunyai makna filosofis yang tinggi bagi masyarakat jawa. Burung kepodang dianggap menggambarkan sebuah kekompakan, keselarasan, keindahan budi pekerti, serta melambangkan anak atau generasi muda. Sampai-sampai karena sebuah makna filosofis yang tinggi itu, muncul sebuah mitos mengenai burung kepodang ini.

Sebuah mitos yang menyatakan bahwa ibu hamil yang memakan daging burung kepodang akan mendapatkan keturunan anak yang ganteng atau cantik. Sehingga dikenallah tradisi “mitoni” atau tradisi tujuh bulan kehamilan, ritual di mana dilakukan penyembelihan pada burung kepodang.

Ciri-ciri

Burung dengan nama latin Oriolus Chinensis ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: paruh berukuran 3 cm berwarna merah jambu (pink), didominasi dengan warna kuning cerah pada tubuh dan ada paduan warna hitam di bagian ekor, ukuran tubuh dari paruh sampai ekor berkisar 25-30 cm, dan yang menjadi ciri khas adalah adanya lingkaran warna hitam di sekeliling mata.

Makanan burung ini adalah buah-buahan seperti pepaya dan pisang, juga menyukai pakan serangga kecil seperti jangkrik, belalang dan ulat. Burung ini banyak ditemui di daerah hutan perbukitan, lereng pegunungan, hutan mangrove, hutan pantai dan hutan terbuka lainnya. Wilayah penyebaran burung kepodang di Indonesia meliputi Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.



Masing-masing daerah menyebut burung kepodang dengan nama yang berbeda-beda. Masyarakat jawa menyebutnya manuk pito wolu, nama ini dikenal karena suara kicauan khas Kepodang yang terdengar seperti ucapan “pitowolu-pitowolu”. Sementara Masyarakat Sunda memanggilnya burung Bincarung, lain lagi di Sulawesi dikenal dengan nama Gulalahe, di Sumatera burung ini disebut Gantialuh, sedangkan dalam bahasa inggris burung ini memiliki nama Black Naped Oriole.

Burung Kepodang juga dijuluki sebagai burung pesolek. Ini karena, ia senantiasa menjaga tubuhnya agar terlihat bersih dan susunan bulu-bulu yang tertata rapi. Di samping itu, ia juga pandai membuat sarang yang indah di alam liar.

Populasi

Saat ini populasi burung kepodang sudah mulai langka. Biasanya di sekitaran Jawa banyak ditemui burung kepodang, terutama di daerah Yogyakarta, namun sekarang sudah tidak lagi. Malahan pedagang burung di Jawa banyak mendapatkan burung ini dari luar Jawa seperti Sumatera dan Kalimantan.

Pengurangan populasi burung ini disebabkan oleh perburuan massal dan pengurangan lahan tempat hidupnya di alam liar, di sisi lain faktor tradisi mitos mengenai burung kepodang yang berkembang juga tidak dapat dinafikan sebagai salah satu penyebab berkurang populasi burung kepodang.

Minat penghobi pada burung kepodang tergolong tinggi, makanya harga jual di pasaran menjadi mahal. Jelas saja demikian, burung ini memiliki kemolekan tubuh yang indah, dan kicauan yang merdu. Ketimbang untuk dijadikan burung petarung, burung kepodang ini sebenarnya terlihat lebih cantik untuk dijadikan burung penghias.

Oleh : Roma Doni
Sumber Gambar :
https://www.flickr.com/photos/64684201@N00/407613790/
Referensi Tulisan :
http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2011/02/19/si-cantik-dengan-mitos-cantiknya-kepodang-341975.html
http://jogja.tribunnews.com/2014/06/08/kepodang-si-kuning-penghias-rumah/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepodang


Related Posts :