Senin, 20 Maret 2017

Mengenal Kacamata Sangihe yang Terancam Punah

Jenis burung kacamata sudah lama dikenal luas sebagai burung pengicau yang bersuara dan bertubuh mungil. Terbukti sampai sekarang ini sudah banyak yang membudidayakan dan memeliharanya. Selain itu, saat adanya ajang kontes burung kicauan biasanya jenis burung kacamata selalu punya tempat tersendiri untuk diikutkan dalam perlombaan tersebut. Tentunya pamor jenis burung kacamata dianggap tak pernah surut untuk semakin digemari para pencinta burung kicauan. Akan tetapi tidak semua jenis burung kacamata bernasib dengan tetap banyak diminati dan populasi terjaga melalui adanya yang membudidayakan. Sebab terdapat satu jenis burung kacamata yang nasibnya berada di ujung tanduk atau sedang menghadapi masa krisis di habitatnya. Adapun nama burung kacamata tersebut adalah Kacamata Sangihe.

Burung Kacamata Sangihe yang bernama latin Zosterops Nehrkorni merupakan burung endemik di Sulawesi Utara tepatnya di Gunung Sahendaruman dan Gunung Sahengbalira yang berada di Pulau Sangihe. Tidak diketahui secara pasti entah mulai kapan status kelangkaan populasi yang menimpa burung Kacamata Sangihe terjadi tapi sekitar tahun 1999 di sekitaran Pulau Sangihe terakhir kalinya ilmuwan yang meneliti mendengarkan kicauannya secara langsung. Akan tetapi berdasarkan data yang dirilis BirdLife International diperhitungkan bahwa jumlahnya kurang lebih sekitar 50 ekor saja. Untuk itu burung Kacamata Sangihe ini pun dimasukkan ke dalam daftar burung yang sedang menghadapi masa krisis yang berujung pada kepunahan.


Gambar I: Burung Kacamata Sangihe

Sewaktu hidup di alam liar biasanya burung Kacamata Sangihe akan hidup di sekitaran hutan primer dan area perbukitan atau dataran tinggi dengan ketinggian sampai 1000 meter dari permukaan laut. Saat mencari makanan kawanan burung langka ini akan menyantap serangga kecil dan buah-buahan juga yang terdapat di dalam hutan tempat nya tinggal. Adapun ciri suara burung Kacamata Sangihe terdengar cukup merdu dengan mampu mengeluarkan nada tinggi. Selain itu burung ini pun mempunyai cicitan yang dibunyikan dengan saling bersahutan antar kawanannya.

Adapun ciri fisik burung Kacamata Sangihe terbilang mirip dengan jenis burung kacamata lainnya. Secara ukuran tubuh hanya sekitar 12 cm dengan terdapat lingkaran berwarna putih di sekitaran matanya. Pada bagian dahinya ditutupi oleh warna hitam dengan paruh yang berwarna jingga pucat. Pada bagian atas tubuhnya mulai dari kepala, tengkuk, punggung, dan sayapnya diselimuti oleh warna hijau zaitun yang cerah. Tampak berwarna kuning cerah di bagian dagu, tenggorokan, dada, dan bagian bawah penutup ekornya. Sedangkan pada bagian perutnya berwarna putih cerah seperti lingkaran di matanya.

Langkanya populasi burung Kacamata Sangihe tak terlepas dari terbatasnya daerah penyebarannya yang hanya di dalam Pulau Sangihe saja. Sehingga saat pulau tersebut semakin banyak dihuni manusia dengan adanya pembukaan lahan maka tanpa sengaja dapat mengganggu populasinya sampai menyisakan hanya sekitar 50 ekor saja. Harapannya tentu semoga keberadaan burung Kacamata Sangihe jangan sampai punah agar generasi mendatang masih bisa melihat burung mungil bersuara merdu ini lagi.

Oleh: Satria Dwi Saputro
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber Tulisan:
1. https://alamendah.org/2011/06/22/burung-kacamata-sangihe-zosterops-nehrkorni/
2. http://www.kutilang.or.id/2011/12/11/kacamata-sangihe/

Sumber Gambar:
https://blogs.uajy.ac.id/ofirmg/2016/11/30/nasib-burung-kacamata-sangihe-dan-langkah-konservasi-dini/


Related Posts :