Selasa, 12 Juni 2018

Bondol Jawa, Si Burung Ocehan Endemik yang Bertubuh Mungil

Sudah terbit di: https://steemit.com/burungocehan/@lerengbukit/bondol-jawa-si-burung-ocehan-endemik-yang-bertubuh-mungil

Jenis burung Bondol atau yang akrab disapa dengan nama Pipit ini telah lama dikenal orang-orang di berbagai daerah. Tapi orang-orang yang mengenal burung Bondol dikarenakan kelakuannya yang suka memakan bulir padi milik petani di sawah. Oleh sebab itu, banyak yang menganggap bahwa jenis Bondol termasuk jenis burung hama yang sering diusir bahkan dimusnahkan. Padahal suara kicauannya terdengar tak kalah merdu dan nyaring dibanding jenis burung ocehan populer lainnya. Untuk itu pada tulisan ini coba mengulik salah satu dari jenis burung Bondol agar semakin banyak yang mengenalnya. Adapun namanya adalah burung Bondol Jawa.

Burung Bondol Jawa termasuk salah satu dari 27 jenis burung Bondol yang terdapat di wilayah hutan Indonesia. Tapi keberadaan jenis burung Bondol Jawa hanya terdapat di Indonesia atau dikenal sebagai burung endemik. Daerah yang menjadi area tempatnya tinggal tidak hanya ada di Pulau Jawa melainkan juga terdapat di daerah Sumatera, Bali, dan Lombok. Bahkan burung Bondol Jawa telah dicoba untuk dilepasliarkan di Singapura dan negara Malaysia dengan dibawa langsung dari Indonesia.

File:Javan Munia (Lonchura leucogastroides).jpg
Gambar: Burung Bondol Jawa

Kehidupannya di alam liar biasanya menghuni area dataran tinggi dengan ketinggian dapat mencapai 1500 meter di atas permukaan laut. Keberadaannya di area dataran tinggi seringkali tidak jauh dari area persawahan milik masyarakat dengan aktif bergerak saat musim panen tiba. Sewaktu mencari makanan di area persawahan biasanya burung Bondol Jawa akan bergerak secara bersama-sama dengan membentuk kelompok yang terdiri dari sekitar sepuluhan ekor. Jenis pakan yang setiap hari disantapnya biasanya hanya berupa biji-bijian yang berasal dari bulir padi atau tanaman sejenis lainnya. Selain itu, sarangnya tampak berbentuk mirip bola dengan ada rongga yang menjadi pintunya. Masa berkembangbiaknya juga berlangsung sepanjang tahun dengan jumlah telur dapat mencapai lima butir.

Adapun ciri fisik burung Bondol Jawa tergolong jenis burung ocehan berukuran kecil dengan panjang hanya sekitar 11 cm saja. Corak warna bulunya tidak terlalu beragam yang terdiri dari warna hitam, putih, dan cokelat tua. Warna hitam tampak di bagian depan wajah, pipi, leher bawah, tenggorokan, dada, dan sisi bawah sayapnya. Warna putih terlihat menutupi area bawah tubuhnya mulai dari pangkal perut, perut, dan area tunggirnya. Lalu warna cokelat tua tampak di bagian atas tubuhnya mulai dari mahkota kepala, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya.

Di samping itu, paruhnya yang berwarna hitam berukuran sedang dengan bentuk agak lebar yang dipakai untuk memecah bulir padi dan rumput. Matanya tampak bulat dengan ukuran yang sedang dan berwarna hitam kecokelatan. Ekornya yang berwarna cokelat berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang tidak terlalu terlalu lebar. Lalu kakinya yang berwarna hitam pekat berukuran sedang dengan cakar yang tampak tajam. Selain itu, bulu-bulu yang terdapat di area dadanya tampak mengembang saat terkena hembusan angin di persawahan.

Adapun ciri kicauan burung yang bernama latin Lonchura Leucogastroides ini terdengar nyaring dan agak melengking dengan volume yang cukup tinggi. Kicauannya bertempo sedang dengan awal kicauan bernada rendah dan diakhiri nadanya semakin tinggi. Bunyi nada kicauannya terdengar seperti “cii..ii..ii” dan “prittt” yang dikeluarkan saat bertengger ataupun hendak terbang mencari makanan. Walaupun kicauannya terdengar cenderung monoton tapi dibunyikan dengan nada lantang dan tajam.

Nah, begitulah ulasan seputar burung Bondol Jawa yang memiliki habitat terbatas di wilayah Indonesia saja. Karenanya, dengan membaca artikel ini sampai tuntas kiranya dapat menambah wawasan kita terkait ragam jenis burung ocehan yang masih jarang diketahui. Untuk itu, bagi Anda yang tertarik dengan burung Bondol Jawa dapat mencarinya di pasar burung ataupun bisa menyimpan audio suaranya yang ada di internet. Okey.

Oleh: Satria Dwi Saputro
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2011/11/17/bondol-jawa/
http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_bondol_jawa.htm

Sumber Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Javan_Munia_(Lonchura_leucogastroides).jpg

Mengenal Lebih Dekat Burung Poksai Sumatera

Sudah terbit di: https://steemit.com/burungocehan/@lerengbukit/mengenal-lebih-dekat-burung-poksai-sumatera

Berbicara tentang jenis burung Poksai mungkin banyak di antara para pembaca sekalian yang sudah mengenal ataupun sedang memeliharanya. Hal ini terasa wajar sebab jenis burung Poksai termasuk salah satu dari sederet burung ocehan yang mempunyai kicauan merdu dan bervariasi. Akan tetapi jenis burung Poksai yang umumnya dikenal orang-orang adalah jenis burung Poksai Genting. Padahal jenis burung Poksai yang hidup di hutan Indonesia terdiri dari enam jenis. Untuk itu pada tulisan ini coba mengenalkan salah satu di antaranya agar para pembaca dapat semakin mengetahuinya. Adapun nama burung Poksai tersebut adalah burung Poksai Sumatera.

Burung Poksai Sumatera merupakan burung endemik yang habitat hidupnya hanya berada di Pulau Sumatera saja. Di habitat aslinya, keberadaan burung Poksai ini tersebar di area dataran tinggi atau pegunungan dengan ketinggian antara 750 sampai 2000 meter di atas permukaan laut. Jenis hutan yang menjadi tempat tinggalnya biasanya hutan primer dan sekunder yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat. Tapi umumnya saat mencari makanan burung Poksai Sumatera lebih senang berada di area kanopi bawah dan tengah hutan.

File:Sumatran Laughingthrush RWD3.jpg
Gambar: Burung Poksai Sumatera

Sewaktu beraktivitas biasanya burung Poksai Sumatera bergerak secara kelompok sambil mengeluarkan suara kicauannya. Jenis makanan yang rutin disantapnya tergolong beragam mulai dari kumbang, laba-laba, buah-buahan yang berukuran kecil, nektar bunga, dan bahkan reptil. Sarangnya tampak berbentuk mirip mangkuk yang tidak terlalu dalam atau dangkal dan dibuat menggunakan rumput kering, dedaunan bambu, dan mengambil serat tanaman kering yang ada di hutan. Masa berkembangbiaknya berlangsung sekitar bulan Februari sampai September dengan jumlah telur yang dierami indukkan dapat mencapai enam butir. Hanya saja, telur yang dierami indukkan burung Poksai Sumatera terkadang bercampur dengan jenis burung Kangkok yang sengaja meletakkan telurnya di sarang burung lain.

Ciri fisik burung yang bernama latin Garrulax bicolor ini memiliki ukuran yang lumayan besar dengan panjang mencapai 30 cm. Corak warna bulunya terdiri dari tiga jenis warna yakni putih, hitam,dan hitam kecokelatan. Warna putih tampak menutupi bagian kepala, tengkuk, leher, tenggorokan, dan dadanya. Warna hitam hanya terlihat di bagian depan kepala dan area depan dan belakang matanya berupa garis agak tebal. Lalu warna hitam kecokelatan menutupi area keseluruhan punggung, sayap, perut, tunggir, dan ekornya.

Di samping itu, paruh burung Poksai Sumatera berukuran sedang dan tampak agak tebal dengan warna kehitaman. Matanya yang bulat berukuran sedang dengan pupil berwarna hitam dan irisnya berwarna cokelat tua. Sayapnya juga berukuran lumayan panjang yang menyentuh pangkal ekornya. Ekornya juga berukuran agak panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang tampak lebar. Kakinya yang berwarna abu-abu kehitaman berukuran agak panjang dan tampak sedikit besar dengan cakar yang tajam.

Corak kicauan burung Poksai Sumatera terdengar cukup merdu dan nyaring dengan volume yang tidak terlalu tinggi. Kicauannya bertempo cukup rapat yang berupa getaran tidak terlalu panjang. Walaupun hanya berupa getaran tapi dibunyikan dengan irama yang naik-turun ditambah pada akhir kicauannya terdengar lebih nyaring. Selain itu, suara kicauannya juga lumayan ribut atau termasuk jenis burung yang rajin bersiul dengan durasi yang dapat mencapai hampir satu menit.

Nah, demikianlah ulasan seputar burung Poksai Sumatera yang mempunyai kicauan merdu dengan habitat hanya terbatas di wilayah Sumatera saja. Akan tetapi, burung Poksai Sumatera cukup sering diburu atau ditangkap untuk dijadikan burung peliharaan. Dampaknya tentu populasinya di alam liar terus mengalami penurunan tanpa ada upaya untuk menangkarkannya. Untuk itu bagi Anda yang tertarik dengan burung Poksai Sumatera maka ada baiknya tidak menangkap atau memeliharanya guna menjaga populasinya agar tidak semakin berkurang di hutan. Akan tetapi dapat menyimpan audio suaranya yang tersedia di internet. Okey.

Oleh: Satria Dwi Saputro
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber Tulisan:
https://omkicau.com/2013/04/24/tiga-jenis-poksay-lokal-tips-perawatan-dan-ragam-suaranya/
http://www.kutilang.or.id/2014/05/05/poksai-sumatera/

Sumber Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sumatran_Laughingthrush_RWD3.jpg